Archive for the ‘Kesenian’ Category

Kesenian Lais
April 16, 2008

Kesenian Lais Diambil Dari Nama Seseorang Yang Sangat Terampil Dalam Memanjat Pohon Kelapa Yang Bernama ‘Laisan” yang sehari – hari dipanggil Pak Lais. Atraksi yng ditontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman, sambil diiringi tetabuhan seperti dog-dog, gendang, kempul dan terompet. Kesenian ini sudah ada sejak Jaman Penjajahan Belanda.

 

 Kesenian ini merupakan sebuah kesenian pertunjukan akrobatik dalam seutas tali sepanjang 6 meter yang dibentangkan dan dikaitkan diantara dua buah bamboo dengan ketinggian 12 sampai 13 meter.
Kesenian Lais di ambil dari nama seseorang yang sangat terampil memanjat pohon kelapa yang bernama ”Laisan” yang sehari-hari di panggil Pak Lais. Lais ini sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda, tempatnya di Kampung Nangka Pait, Kec. Sukawening. Atraksi yang di tontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman dengan diiringi musik reog, kendang penca, dog-dog dan terompet.


Lais

Lais merupakan suatu jenis pertunjukan rakyat di Jawa Barat yang mirip akrobat  Tetapi, karena kegiatan apa pun dalam masyarakat Sunda tradisional ini selalu tidak lepas dari kepercayaan penduduknya, maka keterampilan akrobatik yang dilakukan oleh pemain-pemain lais itu pun dipercaya mendapat bantuan gaib. Selain itu, tentu saja lais juga diberi nafas seni dengan dimasukkannya tetabuhan dan dilantunkannya lagu-lagu selama pertunjukan.

Pertunjukan lais terutama mempertontonkan keterampilan satu atau dua orang pemain lais yang berjalan atau duduk di atas tali tambang yang direntangkan di antara dua ujung bambu. Tali tambang tersebut selalu bergoyang dan bambunya pun bergerak-gerak selagi menyangga beban dan gerakan pemain lais tersebut.

Lais terdapat di Kabupaten Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cirebon dan Bandung. Lais dapat disaksikan pada acara-acara kenegaraan, hajatan, pernikahan ataupun khitanan.

Cara penyajian pertunjukan lais dilakukan dengan terlebih dahulu memancangkan dua leunjeur (batang) awi gombong (bambu berbumbung besar) di tanah serta merentangkan tali tambang pada kedua ujung bambu tersebut. Tali tambang  kemudian diikatkan pada kedua ujung bambu yang dipancangkan tersebut lalu tetabuhan pun dibunyikan sebagai pembukaan juga sebagai pemberitahuan bahwa permainan akan segera dimulai. Hal ini dilakukan untuk mengundang penonton dan sebagai pemanasan suasana.

Ketika permainan dimulai, sang dukun (pawang) lais pun siap dengan perlengkapan upacaranya, yaitu sesajen (sesajian) dan pedupaan (kukusan). Bersamaan dengan bunyi tetabuhan, dibakarlah kemenyan dalampedupaan tadi serta mantera-mantera pun dibacakan. Upacara ini dimaksudkan agar si pemain lais  diberi kekuatan, kelincahan, keterampilan serta keselamatan di dalam permainannya.

Busana yang dikenakan oleh pemain lais yaitu busana yang biasa dipakai oleh wanita seperti kain dan kebaya, terutama pemain lais di Priangan. Dengan langkah gemulai, pemain lais yang menurut kepercayaan mulai kemasukan roh gaib  itu menari-nari mendekati salah satu tiang bambu. Ia menyelipkan sebuah payung di pinggangnya. Pada  saat itu terjadilah percakapan antara pemain lais dan pawang. Percakapannya yaitu sebagai berikut:

Pawang: “Rek ka mana, Nu Geulis?”(Mau ke mana, Cantik?)

Si Lais  : “Apan rek ulin.” (Kan mau main.)

Pawang: “Nyandak naon?” (Membawa apa?)

Si Lais : “Ieu payung bisi panas jeung duwegan bisi halabhab.” (Ini payung kalau-kalau kepanasan dan kelapa muda kalau-kalau kehausan.)

Pawang: “Pek atuh geura amengan.” (Silakan kalau mau main.)

Sambil menari lagi, Si Lias terus mendekati tiang bambu lalu dengan cekatan  memanjat tiang bambu tersebut seperti seekor kera. Cara memanjatnya yaitu dengan tidak merapatkan tubuh ke ke batang bambu, melainkan dengan menggunakan tangan dan kakinya.

Ketika Si Lais memanjat batang bambu, tabuhan pengiring dibunyikan semakin keras sampai Si Lais tersebut mencapai puncak batang bambu. Setelah sampai pada tali tambang yang direntangkan, kemudian Si Lais pun duduk di ujung bambu dengan santai dan berleha-leha, lalu ia menyanyi namun hanya suara gumamnya saja tanpa kata-kata. Pawang yang berada di bawah bertanya lagi sambil menengadahkan kepalanya.

Pawang : “Hey, Geulis, keur naon?” (Hey, Cantik,  sedang apa?)

Si Lais   : “Apan ieu keur senang-senang!” (Kan ini lagi bersenang-senang.)

Pawang : “Cing, Geulis, ngojay kawas bangkong.” (Cobalah, Cantik, kamu berenang seperi katak.)

Si Lais   : “Mangga,” sambil tersenyum

Kemudian Si Lais pun menelungkup pada ujung bambu dan menekankan perutnya serta membuat gerakan seperti sedang berenang.

Si Lais : “Aduh capejeung hanaang.” (Aduh ,saya capek dan haus).

Si Lais kemudian duduk lagi pada ujung bambu, lalu membelah kelapa muda yang dibawanya dengan golok. Selain gerak-gerik Si Lais yang terampil itu, kelakuannya pun membuat hati penonton berdebar terutama para penonton wanita. Ketika Si Lais membelah kelapa muda, yang digunakan sebagai tahanan adalah lututnya dan air kelapa itu pun diminum sambil lalagedayan (berleha-leha atau berbaring dengan santai sambil bergoyang kaki). Setelah meminum habis air kelapa muda itu, Si Lais pun turun dengan cara menyusuri bambu dengan meluncur.

Setelah sampai di bawah, Si Lais menari-nari dan golok yang dibawanya diletakkan di dekat para penabuh, kemudian ia naik kembali sampai ke puncak tiang bambu dan berdiri di sana. Ia mengambil payung yang diselipkan di pinggangnya. Dengan menggunakan payung itu, ia meniti (berjalan) di atas tali tambang yang direntangkan tadi.

Di tengah-tengah tambang tersebut ia menari, menyanyi dan mengayun-ayunkan badannya. Atraksi tersebut merupakan puncak dari permainan lais. Banyak diantara penonton yang menahan nafas dan ada pula yang berteriak karena merasa khawatir Si Lais jatuh terutama para penonton wanita. Si Lais berpura-pura memperlihatkan gerakan kalau ia terpelesest, sehingga membuat penonton menjadi histeris. Dalam kepura-puraannya itu ia  berceloteh. “Aduuh …… Wah …… Awas,” dan … “La la la,” ia bernyanyi tak henti-hentinya.  Setelah puas mempermainkan penonton, ia pun berjalan menuju ujung yang lain, kemudian sambil berdiri di ujung tersebut ia pun menari mengikuti irama tetabuhan dari bawah.

Setelah selesai, Si Lais pun turun dengan cara meluncur. Tetabuhan dari bawah terus dibunyikan dan peniup terompet pun meniup tarompetnya dengan lagu-lagu yang riang. Hal ini dilakukan untuk memberikan waktu kepada pemain lais untuk beristirahat.

Setelah selesai beristirahat, Si Lais pun kembali memanjat bambu tersebut. Ia memperlihatkan permainannya yaitu dengan berayun-ayun di tengah tambang dengan kaki tergantung. Sambil berjalan di atas tambang, ia membuka pakaian wanita yang dipakainya dengan ngorondang (merangkak).

Setelah menyelesaikan pertunjukannya, ia pun turun kembali menyusuri tambang dan ini merupakan akhir dari pertunjukan lais Si Lais kemudian dibawa ke dalam rumah oleh pawang. Ketika keluar, Si Lais tersebut bersikap seperti biasa dan pakaiannya sudah diganti dengan pakaian biasa.

Pertunjukan lais memakan waktu setengah hari atau bahkan sehari penuh, tergantung kepada yang mengundangnya. Waditra yang digunakan untuk mengiringi pertunjukkan lais sama dengan waditra yang digunakan dalam kendang penca, tetapi ditambah dengan dogdog dan angklung. Para pemain lais terdiri dari laki-laki yang sudah dewasa sebanyak 6 orang, yaitu satu orang pemain lais, satu orang pawang yang kadang-kadang merangkap menjadi pimpinan lais dan yang lainnya adalah para penabuh.

Permainan lais biasanya diadakan di arena terbuka seperti di lapangan atau alun-alun yang tempatnya dianggap luas untuk menancapkan tiang bambu dengan jarak 10-15 meter antara tiang bambu yang satu dengan tiang bambu yang lainnya. Pertunjukan lais bukan merupakan bagian dari suatu upacara. Oleh karena itu, dapat dipanggil setiap saat. Permainan lais ini diturunkan oleh keluarga ke setiap generasi penerusnya.


Lais adalah pentas serupa sintren, tetapi penarinya laki-laki. Berbekal tekad dan bekal keturunan seniman sintren, Indah pun memantapkan hati. Dia belajar dengan tekun dalam sehari agar bisa semaksimal mungkin mementaskan sintren. “Belajarnya dua kali, malam dan pagi hari. Akhirnya, pentas berjalan lancar,” ujar Indah diamini Kursilah.

Saat itu, “guru kilat” Indah adalah sang kakak, Didi Suhandi (40),yang telah sebelumnya sering berperan sebagai lais. Darah kesenian tradisional Cirebonan memang kental pada keluarga itu. Putra bungsu Kursilah, Diding Ruhandi, juga ambil bagian dalam pentas lais dan sintren, sebagai pemain musik.

Kursilah mengatakan, meski sekarang banyak dimainkan anak-anak remaja, faktor keturunan berpengaruh penting dalam kesakralan pentas sintren. “Jika memang ada keturunan, latihan mudah dan hasilnya bagus,” ujarnya.

Sebagai sesepuh Kelompok Suryanegara, Kursilah berusaha mendidik beberapa orang untuk menjadi sintren. “Sejauh ini belum berhasil. Selalu ada kekurangan, seperti gerakan yang tidak luwes,” tuturnya.

Oleh sebab itu, Kursilah maupun Indah mengatakan, tidak mudah mendidik seseorang menjadi sintren atau lais. Selain faktor keturunan, ketekunan juga harus dijalani seorang sintren dan lais.

“Sebelum berhasil, calon harus puasa,” kata Diding Ruhandi, yang juga staf di Badan Komunikasi dan Pariwisata Kabupaten Cirebon.

Sebagai pemain, Indah mengatakan ada unsur magis dalam pentas sintren. Tanpa unsur itu, sulit bagi seseorang-dalam kondisi terikat- ganti baju, dan mendandani muka dalam waktu singkat. Terlebih, aktivitas itu dilakukan dalam kurungan ayam yang ukurannya terbatas.

“Untuk berdiri saja tidak bisa,” kata Indah, yang sehari-hari menjadi pengolah rajungan.

Pegiat seni Indramayu, Acep Syahril, berpendapat, ada teknik tertentu yang bisa dipelajari dalam melepas tali dan berdandan.

Namun, menurut Indah, setiap saat “menjadi” sintren, ia dalam kondisi setengah sadar. Kondisi itulah yang memungkinkan dirinya berdandan total dalam waktu sangat singkat, sekitar tiga menit. “Dalam kondisi normal, waktu segitu tidak cukup meski untuk ganti baju saja,” ujar Indah. Sintren “buhun”

“Kursilah mengatakan, sejauh ini kelompoknya mempertahankan keaslian kesenian sintren. “Makanya dinamakan sintren buhun (kuno),” ujar Kursilah.

Hal itu ditunjukkan dengan terbatasnya alat musik yang digunakan, hanya lima jenis, yaitu buyung kecil dan buyung besar, tutukan, kecrek, dan keneng.

Selain mempertahankan keaslian, Kursilah juga membatasi jumlah pementasan, hanya untuk acara resmi. “Kami tidak melayani permohonan tampil pada acara hajatan,” ujarnya. Mereka tidak hanya tampil di Cirebon, tetapi juga di Bandung dan Jakarta.

Sering tampil di depan tamu kabupaten membuat Indah merasa bangga. “Waktu ada acara yang dihadiri orang Mesir, mereka kagum dan sempat tidak percaya. Namun, setelah melihat ikatan talinya, mereka percaya,” kata Indah.

Bila tampil dalam acara resmi, waktu pentas terbatas. “Paling setengah jam saja, padahal penonton ingin lebih lama,” kata Kursilah. “Padahal, bila pentas lebih lama, sawernya tambah banyak,” katanya. Sekali pentas, saweran bisa sampai jutaan rupiah. (LIS DHANIATI)